PGRI DIY
PGRI DIY: Sistem Lima Hari Sekolah Masih Efektif bagi Guru

PGRI DIY: Sistem Lima Hari Sekolah Masih Efektif Bagi Guru

PGRI DIY: Sistem Lima Hari Sekolah Masih Efektif Bagi Guru

Facebook Twitter WhatsApp Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email Print
PGRI DIY
PGRI DIY: Sistem Lima Hari Sekolah Masih Efektif bagi Guru

PGRI DIY Menegaskan Bahwa Guru-Guru Di Wilayah Ini Masih Merasa Nyaman Dengan Penerapan Sistem Lima Hari Sekolah. Pernyataan ini sekaligus menjadi tanggapan terhadap wacana perubahan sistem hari sekolah yang sempat muncul beberapa waktu terakhir. Ketua PGRI DIY, Drs. H. Suharto, M.Pd., menyampaikan bahwa mayoritas guru menilai sistem lima hari efektif untuk menjaga kualitas pembelajaran sekaligus keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. “Dengan lima hari sekolah, guru bisa lebih fokus mempersiapkan materi ajar, melakukan evaluasi, serta memberi perhatian yang optimal kepada siswa,” jelasnya.

Menurut Suharto, kenyamanan guru menjadi faktor penting dalam proses pembelajaran yang berkualitas. Guru yang kelelahan atau terburu-buru cenderung sulit memberikan pengajaran yang maksimal. Sistem lima hari sekolah, menurutnya, memungkinkan guru untuk mengelola waktu dengan lebih baik, termasuk melakukan refleksi dan pengembangan profesional di luar jam mengajar.

Selain itu, PGRI DIY mencatat bahwa sistem ini juga berdampak positif terhadap siswa. Dengan jadwal yang konsisten, murid lebih mudah menyesuaikan ritme belajar, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menjaga konsentrasi di kelas. Beberapa guru mengungkapkan bahwa pengurangan hari sekolah justru berpotensi menumpuk materi, sehingga meningkatkan tekanan bagi guru maupun siswa.

PGRI DIY juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan DIY dalam memperkuat sistem ini. Penyediaan sarana prasarana, akses pelatihan bagi guru, serta mekanisme evaluasi rutin di anggap krusial untuk menjaga efektivitas lima hari sekolah. Survei internal PGRI menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen guru merasa sistem ini cocok dan tidak menimbulkan beban berlebihan. Meski demikian, PGRI DIY tetap membuka ruang diskusi untuk inovasi pendidikan, terutama terkait pembelajaran dig ital dan hybrid learning.

Lima Hari Sekolah Membuatnya Bisa Lebih Fokus Belajar

Sistem lima hari sekolah yang di terapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat beragam tanggapan dari para pelajar. Mayoritas siswa mengaku nyaman dengan jadwal ini karena di anggap lebih konsisten dan memungkinkan mereka mengatur waktu belajar serta kegiatan lainnya dengan lebih baik. Seorang siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta, Rafi (17), mengatakan bahwa Lima Hari Sekolah Membuatnya Bisa Lebih Fokus Belajar tanpa merasa terlalu terbebani. “Kalau sekolah empat hari, terkadang materi yang sama harus di padatkan, jadi lebih capek dan susah memahami pelajaran,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sistem lima hari juga mempermudah mengatur waktu untuk belajar mandiri dan mengikuti ekstrakurikuler.

Hal senada di sampaikan oleh seorang pelajar SMP, Nabila (14), yang menilai sistem lima hari memberikan rutinitas yang stabil. “Aku jadi punya waktu untuk mengulang pelajaran di rumah dan ikut les atau kegiatan sekolah lain. Jadwalnya lebih pas di bandingkan kalau cuma empat hari sekolah,” jelasnya. Para pelajar juga menyoroti konsistensi guru dalam mengajar. Mereka merasa guru lebih siap dan materi lebih tersampaikan dengan baik karena tidak terburu-buru.

Namun, tidak sedikit pelajar yang menyoroti tantangan sistem ini, terutama terkait jam belajar yang padat dan kegiatan tambahan. Beberapa siswa mengaku terkadang merasa lelah ketika menghadapi ujian atau tugas proyek yang menumpuk. Meski begitu, mereka menilai tantangan ini masih bisa di atasi dengan manajemen waktu yang baik.

Para pelajar juga menekankan pentingnya dukungan fasilitas dan lingkungan belajar yang nyaman. Ruang kelas yang memadai, akses internet untuk belajar daring, dan sarana penunjang ekstrakurikuler di anggap krusial agar sistem lima hari benar-benar efektif. Selain itu, mereka berharap sekolah tetap memberikan fleksibilitas.

Ketua PGRI DIY, Drs. H. Suharto, M.Pd., Menegaskan Bahwa Mayoritas Guru Merasa Nyaman

Sistem lima hari sekolah yang di terapkan di Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat tanggapan positif dari para guru. Menurut mereka, jadwal ini masih efektif dalam mendukung proses pembelajaran dan kesejahteraan tenaga pengajar. Ketua PGRI DIY, Drs. H. Suharto, M.Pd., Menegaskan Bahwa Mayoritas Guru Merasa Nyaman dengan sistem lima hari sekolah. “Guru-guru di DIY masih bisa mengatur waktu dengan baik untuk mengajar, menyiapkan materi, serta melakukan evaluasi. Ini membantu menjaga kualitas pendidikan dan kesehatan mental guru,” ujarnya.

Salah seorang guru SMA Negeri 1 Yogyakarta, Ibu Ratna (42), menambahkan bahwa lima hari sekolah memberi ruang bagi guru untuk fokus dan profesional. “Dengan jadwal lima hari, saya punya waktu cukup untuk mempersiapkan materi, menilai tugas siswa, dan melakukan pengembangan diri. Jika hari sekolah di kurangi, semua aktivitas ini bisa menumpuk,” jelasnya. Ia menekankan bahwa kesiapan guru dalam menyampaikan materi berpengaruh langsung pada efektivitas belajar siswa.

Selain itu, guru di tingkat SMP dan SD juga menilai sistem lima hari lebih stabil bagi manajemen kelas dan kegiatan ekstrakurikuler. Guru-guru dapat merencanakan pembelajaran dengan ritme yang konsisten, sehingga siswa dapat mengikuti materi tanpa merasa terburu-buru. Beberapa guru mengungkapkan bahwa sistem empat hari sekolah sebelumnya sempat menimbulkan tekanan karena waktu mengajar yang lebih padat.

Dari survei internal PGRI DIY, lebih dari 80 persen guru menilai sistem lima hari sekolah masih sesuai dan tidak membebani. Mereka merasa jadwal ini seimbang antara waktu mengajar dan kegiatan administrasi, termasuk rapat, pelatihan, dan evaluasi. Banyak guru juga menekankan pentingnya dukungan sarana-prasarana, seperti ruang kelas memadai, fasilitas digital, dan materi ajar yang lengkap, agar sistem lima hari dapat berjalan maksimal.

Tingkat Absensi Guru Yang Relatif Rendah Sejak Penerapan Lima Hari

Implementasi sistem lima hari sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta di dukung oleh sejumlah data dan fakta yang menunjukkan efektivitasnya bagi guru maupun siswa. Informasi ini menjadi dasar bagi PGRI DIY dan Dinas Pendidikan untuk menegaskan bahwa sistem lima hari masih relevan dan mendukung kualitas pendidikan. Menurut survei internal PGRI DIY, lebih dari 80 persen guru di tingkat SD, SMP, dan SMA merasa nyaman dengan sistem lima hari sekolah. Mereka menyatakan bahwa jadwal ini memberi cukup waktu untuk mempersiapkan materi ajar, mengevaluasi hasil belajar, serta melakukan pengembangan profesional. Guru yang merasa nyaman dengan jadwalnya cenderung lebih produktif dan mampu menjaga kualitas pengajaran.

Dari sisi siswa, data menunjukkan bahwa sistem lima hari sekolah membantu menjaga konsistensi belajar. Survei yang di lakukan di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta mencatat bahwa sekitar 75 persen siswa merasa sistem ini efektif untuk mengatur ritme belajar dan kegiatan ekstrakurikuler. Siswa lebih mampu memahami materi karena pembelajaran berjalan secara bertahap dan tidak menumpuk, berbeda dengan sistem empat hari sekolah yang memadatkan jam belajar.

Selain itu, PGRI DIY mencatat Tingkat Absensi Guru Yang Relatif Rendah Sejak Penerapan Lima Hari sekolah. Data menunjukkan rata-rata kehadiran guru mencapai 95 persen per minggu, yang mengindikasikan tingkat kepuasan dan kesejahteraan kerja yang baik. Kesiapan guru dalam mengajar berdampak langsung pada mutu pembelajaran dan keterlibatan siswa di kelas. Fakta lain yang mendukung sistem ini adalah tersedianya sarana-prasarana yang memadai di sekolah. Banyak sekolah di DIY sudah di lengkapi ruang kelas yang cukup, fasilitas teknologi untuk pembelajaran digital, serta akses perpustakaan dan laboratorium PGRI DIY.

Share : Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email WhatsApp Print

Artikel Terkait