
Bobby Gratiskan Pendidikan Bagi Siswa SMA/SMK Korban Banjir
Bobby Afif Nasution Menggratiskan Biaya Pendidikan Formal Bagi Siswa SMA, SMK Dan SLB Yang Terdampak Banjir Dan Longsor Di Wilayah Tersebut. Kebijakan pak Bobby ini di umumkan sebagai bagian dari rangkaian program Program Unggulan Bersekolah Gratis (PUBG) yang akan mulai berlaku pada tahun ajaran 2026/2027.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir tahun 2025 telah menimbulkan dampak luas di puluhan kabupaten/kota di Sumut. Termasuk kerusakan infrastruktur, kehilangan mata pencaharian, serta gangguan terhadap aktivitas pendidikan siswa setempat.
Dalam konteks dampak tersebut, sekolah-sekolah mengalami kerusakan fisik sekaligus beban biaya yang harus di tanggung kembali oleh keluarga siswa yang menjadi korban bencana. Kebijakan Bobby Nasution lahir dari kebutuhan nyata untuk memastikan akses pendidikan tetap terjamin. Tanpa hambatan finansial yang semakin membebani keluarga terdampak.
Total 10 Kabupaten/Kota Akan Menerima Dukungan Pendidikan Gratis
Menurut pernyataan resmi yang di sebarkan oleh Pemprov Sumut, kebijakan ini mencakup sejumlah besar siswa dari wilayah paling parah terdampak. Awalnya, program ini di rencanakan untuk lima kabupaten/kota di Kepulauan Nias, namun di perluas untuk memasukkan lima wilayah lain yang terdampak bencana. Yakni Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Kota Sibolga, dan Langkat. Dengan perluasan ini, Total 10 Kabupaten/Kota Akan Menerima Dukungan Pendidikan Gratis. Termasuk pembebasan SPP atau biaya sekolah untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri.
Program ini juga menargetkan alokasi anggaran yang signifikan dari APBD Provinsi Sumut untuk mendukung keberlanjutan layanan pendidikan tersebut. Anggaran yang disiapkan di perkirakan mencapai puluhan miliar rupiah, yang tidak hanya meniadakan biaya sekolah formal tetapi juga mencakup dukungan teknis. Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar kembali berjalan normal di sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan fasilitas.
Bobby Nasution menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar bantuan sementara. Tetapi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketimpangan akses pendidikan. Dan membantu keluarga korban bencana agar anak-anak mereka tetap bersekolah tanpa harus khawatir soal biaya. Hal ini di anggap sangat krusial, terutama di tengah upaya pemulihan sosial ekonomi masyarakat Sumut pasca-bencana.
Orang Tua Siswa Dan Tokoh Masyarakat Menyampaikan Apresiasi Atas Kebijakan Pak Bobby
Reaksi dari berbagai kalangan terhadap kebijakan ini terbilang positif. orang tua siswa dan tokoh masyarakat menyampaikan apresiasi atas kebijakan pak bobby yang di nilai tepat waktu dan berpihak pada kebutuhan keluarga korban. Seorang warga di wilayah Tapanuli Selatan menyatakan bahwa langkah ini memberikan “angin segar bagi masa depan anak-anak kami”. Terutama di tengah tekanan ekonomi yang semakin dirasakan sejak bencana melanda.
Selain itu, tokoh dunia pendidikan juga melihat program ini sebagai model respons kebijakan publik yang menghadirkan keseimbangan antara usaha penanggulangan dampak bencana dan pembangunan sumber daya manusia. Dengan memastikan siswa tetap bersekolah, Pemprov Sumut berharap bahwa generasi muda di daerah terdampak tidak kehilangan momentum belajar. Serta terus berkontribusi pada pembangunan daerah di masa mendatang.
Pemulihan Sumut Memerlukan Kerja Sama Seluruh Elemen Masyarakat
Kebijakan pendidikan gratis ini juga menjadi bagian dari strategi pemulihan yang lebih luas yang di lakukan oleh Pemprov Sumut. Pemerintah daerah bekerja sama dengan TNI, Polri, dan berbagai lembaga untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak serta memulihkan akses transportasi dan fasilitas umum. Dukungan sosial ekonomi termasuk bantuan pemulihan lahan pertanian, rehabilitasi rumah warga tertimpa musibah, serta penyediaan fasilitas kesehatan dan sanitasi juga menjadi fokus utama pemerintah.
Bobby Nasution menegaskan bahwa pemulihan sumut memerlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat. “Kita harus bersama-sama memastikan kehidupan masyarakat bukan hanya kembali normal. Tetapi juga menjadi lebih kuat dan tahan terhadap bencana di masa depan,” ujarnya dalam sejumlah kesempatan dialog dengan masyarakat.
Ke depan, kebijakan ini di harapkan tidak hanya membantu pemulihan jangka pendek. Tetapi juga menjadi pondasi untuk menciptakan generasi muda yang lebih tangguh, berpengetahuan, dan siap menghadapi tantangan masa depan.