
Kasus Keracunan MBG di Sidoarjo Meluas ke 19 Sekolah
Kasus Keracunan Setelah Mengonsumsi Makanan Dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Terus Berkembang. Insiden yang awalnya di laporkan terjadi di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam kini di ketahui berdampak pada penerima MBG di sejumlah sekolah lain.
Hingga Rabu (2/9/2026), jumlah korban di laporkan mencapai 566 orang dari 19 lembaga pendidikan. Sebagian korban telah mendapatkan perawatan dan di perbolehkan pulang. Sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Berawal dari Keluhan Setelah Menyantap MBG
Kasus Dugaan keracunan mulai di ketahui pada Selasa (1/9/2026), setelah sejumlah santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam mengalami keluhan kesehatan beberapa jam setelah menyantap makanan MBG.
Keluhan yang di laporkan antara lain mual, muntah, sakit perut, pusing, dan tubuh terasa lemas. Kondisi tersebut kemudian membuat jumlah pasien bertambah sehingga para korban harus di bawa ke sejumlah fasilitas kesehatan.
Awalnya, ratusan santri menjadi kelompok yang paling banyak mendapatkan penanganan. Namun, perkembangan pendataan menunjukkan bahwa penerima MBG dari sekolah lain yang memperoleh makanan dari sumber yang sama juga mengalami keluhan.
Kasus Keracunan Meluas ke 19 Sekolah
Kasus tersebut kemudian di ketahui tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren. Sebanyak 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, turut masuk dalam pendataan korban.
Jumlah korban terus berubah karena sebagian pasien yang sebelumnya mendapatkan penanganan di posko kemudian di rujuk ke rumah sakit untuk memperoleh perawatan lebih lanjut.
Dinas Kesehatan Sidoarjo menyebut total korban telah mencapai 566 orang setelah adanya tambahan pasien yang di rujuk. Dari jumlah tersebut, 88 orang masih menjalani perawatan medis, sedangkan sebagian besar korban lainnya telah di perbolehkan pulang atau menjalani rawat jalan.
Operasional SPPG Kalitengah Di hentikan Sementara
Sebagai langkah penanganan, pemerintah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah yang menjadi tempat produksi makanan MBG untuk para penerima di wilayah tersebut.
Penghentian di lakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang di alami para korban.
Sampel makanan juga di ambil untuk di lakukan pemeriksaan. Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah makanan yang di konsumsi memang menjadi sumber masalah. Serta mengidentifikasi kemungkinan kontaminasi yang terjadi selama proses pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi.
Pemerintah Lakukan Pemeriksaan
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga menyiapkan pemeriksaan terhadap dapur SPPG dan sejumlah titik distribusi makanan MBG. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat proses penyediaan makanan, kondisi fasilitas, hingga jalur pengiriman ke sekolah-sekolah penerima.
Badan Gizi Nasional bersama Dinas Kesehatan dan pihak rumah sakit juga melakukan koordinasi untuk memantau kondisi korban serta memperbarui data pasien.
Penyebab Masih Dalam Penyelidikan
Hingga saat ini, penyebab pasti dugaan keracunan belum dapat dipastikan. Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dari investigasi untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi pada makanan. Atau faktor lain yang menyebabkan munculnya keluhan secara bersamaan.
Kasus di Sidoarjo juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG, terutama dalam aspek kebersihan dapur. Kemudian keamanan bahan makanan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi.
Dengan jumlah korban yang mencapai ratusan orang dan melibatkan 19 sekolah, hasil investigasi diharapkan dapat segera memberikan kejelasan mengenai penyebab kejadian sekaligus menjadi bahan evaluasi agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Respon Dari Masyarakat
Masyarakat dan para orang tua semakin khawatir terkait banyaknya jumlah keracunan yang terjadi akibat program MBG ini. Pemerintah harus bertindak tegas untuk menangani ini semua. Bila perlu periksa semua SPPG yang melakukan penyaluran MBG ke setiap sekolah yang keracunan.
Kalau tidak, semua siswa lain akan terkena dampak keracunan dari MBG ini. Masyarakat juga berharap MBG ini perlu di perbaiki lagi agar tidak terjadi hal yang seperti ini.